Rabu, 23 Juli 2008

Hari Anak Nasional 2008

23 July 2008..hari apakah itu di Indonesia tercinta ini? Hari Kebangkitan? Oops bukan. Hari Ibu? Jelas Bukan! Hari Anak? Yap! Benar! Hari Anak Nasional! entah sudah diperingati keberapa puluh atau berapa ratus yang pasti peringatan Hari Anak Nasional ini tampak asing bagi kita yang tidak terlalu familiar.

Anak..yang dimaksud anak di dalam pengertian secara harafiah kamus manapun adalah seseorang yang belum dewasa, belum cukup umur secara rohani dan jasmani, masih tinggal seatap dengan orang tua/wali dan perlu kasih sayang serta perhatian dari orang sekitar. di Indonesia, yang termasuk dalam kategori anak adalah seseorang yang masih dibawah umur 18/17 tahun (hayo para ABG2 disana, kalian masuk kategori ini!) dan tidak sepatutnya bekerja keras demi mencukupi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
namun apa daya. kenyataannya masih banyak anak (bahkan dibawah usia sekolah SD) yang dipaksa orang tuanya untuk mengemis di jalanan hanya demi memenuhi perut ayah dan ibunya. ironisnya lagi, banyak yang diam-diam memanfaatkan keadaan ini dengan menjadi bandar pengemis sehingga semua pemasukan yang didapat diserahkan untuk kepentingan pribadinya!

pemerintah Indonesia seharusnya berkaca kepada negara Vietnam! mengapa Vietnam? mengapa negara itu yang disanjung? percaya atau tidak, pemerintah Vietnam ternyata serius dalam mensejahterakan anak-anak miskin (jalanan) disana! bagaimana?? dengan melarang mereka menjadi pengemis dan penjual di jalanan dan mengirim mereka ke lembaga-lembaga yang dipercaya untuk mendidik mereka menjadi lebih baik! pemerintah Vietnam sadar kalau dengan membiarkan para anak-anak jalanan tidak mendapat apapun dan hidup semena-mena di jalanan, mereka akan mencoreng nama baik Vietnam dan membuat turis-turis asing enggan berkunjung ke Vietnam! salut untuk Vietnam yang (memang ini berdasarkan pengamatan secara fakta) telah sukses selama beberapa tahun terakhir memberantas kemiskinan dan mensejahterakan kehidupan anak disana! mata uangnya bahkan menguat beberapa tahun terakhir dan investor makin tertarik untuk menanamkan modal disana! hmm..sepertinya Indonesia sudah tertinggal jauh.

kembali ke masalah hari anak, saya sendiri terkadang miris jika harus melihat generasi kedepan di Indonesia tumbuh tanpa mendapat asupan gizi yang baik. bayangkan saja, banyak anak-anak balita Indonesia yang mengidap kasus gizi buruk. jangankan untuk sekolah, untuk makan pun mereka terkadang kesulitan. memang kita tidak boleh menyalahkan sepenuhnya kepada pemerintah karena biar bagaimanapun, bayi mendapat asupan gizi dari air susu ibu (ASI) dan dari situlah kita bisa mengetahui apakah si anak tersebut akan tumbuh dengan sempurna atau justru mengidap gizi buruk nantinya di saat dia tumbuh. setelah melakukan beberapa penelitian dan survei, diketahui bahwa banyak ibu-ibu miskin yang hamil (terutama yang sedang hamil tua) berpuasa selama 1-2 hari tanpa makan (bahkan ada yang makan seadanya) padahal kita tahu sendiri bahwa apa yang dimakan sang ibu sangat berpengaruh terhadap kualitas ASInya. sepatutnya hal ini menjadi perhatian bersama, yakni si ibu dan pemerintah sendiri. mungkin pemerintah bisa memulai dari hal sederhana, contoh memberikan penyuluhan di desa dengan mendatangkan dokter-dokter kandungan dan memberikan bantuan (makanan bergizi) yang paling penting untuk ibu-ibu hamil tersebut. tentunya ini harus dilakukan dengan kesadaran yang tinggi.

masalah yang kini sedang dihadapi bangsa Indonesia adalah baby booming ala Indonesia karena rendahnya tingkat KB (keluarga berencana). banyak keluarga miskin di Indonesia yang masih berpegang prinsip 'banyak anak banyak rejeki' namun apakah itu semua akan berbuah menjadi hasil yang baik? tidak sama sekali. banyak sekali orang tua dengan anak-anak mereka yang minimal berjumlah lebih dari lima orang tidak sanggup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. jangankan untuk mengecap pendidikan tinggi, untuk makan 3x sehari saja mereka terkadang kalang kabut dan mengutang sana sini. apakah ini masa depan generasi Indonesia? yang paling parah adalah kalau para orang tua berpikiran anak-anak mereka tidak perlu sekolah sampai jenjang SMA dan langsung membantu mereka mencari nafkah (ada beritanya di detik.com satu keluarga di Jawa dengan 20 orang anaknya yang paling tinggi pendidikannya hanya SMP!) padahal anak-anak tersebut ingin sekali mengecap pendidikan yang baik (paling tidak SMA) dan menjadi pribadi yang bisa dibanggakan banyak orang.

masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga berperan penting dalam kelangsungan hidup anak-anak Indonesia. banyak sekali anak-anak miskin (dan tak jarang anak-anak mampu pun) di Indonesia yang mengalami kekerasan fisik baik di dalam rumah tangga maupun di kehidupan jalanan. para orang tua berpendapat bahwa anak-anak harus didisiplinkan dengan bentuk hukuman dan kekerasan. tak jarang caci makian juga mereka dapatkan (contoh: goblok, bego, bodoh, sapi, anjing, dll) dan semua bentuk itu entah caci makian dan hukuman fisik masuk dalam kekerasan, hanya saja medianya beda. kalau hukuman fisik (tonjokkan, ditendang, disiram air panas, dll) bisa membuat anak menjadi kasar saat dia dewasa nanti karena bisa berpengaruh besar dalam perkembangan otaknya, lain hal dengan caci makian. caci makian bisa mempengaruhi cara bergaul dan berkomunikasi anak di hari kedepannya. tak jarang mereka yang tadinya aktif dalam segala hal entah pendidikan akan berubah 180 derajat menjadi pribadi yang murung bahkan 'gila'. bahkan beberapa dari mereka ada yang bunuh diri karena malu. kekerasan seksual juga menjadi salah satu penyebab kegagalan berkembangnya kesejahteraan anak-anak Indonesia. banyak dari mereka yang menjadi korban kerabat terdekat seperti tetangga, teman bahkan ayah kandung! ironis memang!

nasi sudah menjadi bubur. Indonesia sudah tertinggal jauh. jangankan dengan Singapura (yang notabene sekarang adalah negara maju dengan mata uangnya yang membuat kita mengernyitkan dahi!), dengan Vietnam saja kita sudah kalah jauh dalam berusaha mensejahterahkan kehidupan anak-anak. semoga hari anak ini bisa menjadi pembelajaran bagi pemerintah Indonesia yang terkenal ogah-ogahan dan 'angat-angat tai ayam' dalam melaksanakan segala sesuatu.

Tidak ada komentar: