Kamis, 28 Mei 2009

Jakarta - 28/5/2009

Jakarta...andai engkau bukan kampung halamanku, sudah kutinggalkan sejak lama...


kenapa tiba2 saya bisa menulis kalimat diatas dengan gamblang? apa saya sudah gila? atau hanya sekedar cari sensasi? tentu saja tidak. saya menulis kalimat tersebut tentu dengan alasan yang mendukung.


Jakarta sudah semakin bermasalah. dari tahun ke tahun saya tidak melihat perubahan yang berarti dari Ibukota Indonesia berpenduduk lebih dari 8 juta jiwa ini (red.kalau mau dijumlahkan dengan pendatang2 ilegal dan pekerja2 BoDeTaBek sekitar 11-12 juta). setiap hari saya harus berurusan dengan yang namanya KEMACETAN! sungguh menyebalkan sekaligus menyesakkan! betapa tidak! peraturan yang dibuat oleh Pemerintah Ibukota seakan-akan tidak berlaku di hampir 70% wilayah Jakarta. terlebih lagi jika anda bertempat tinggal di wilayah Timur, Utara atau Barat, wah jangan berharap kendaraan anda akan bisa meluncur dengan santai untuk mencapai suatu destinasi. lah, saya setiap hari sudah berangkat sekitar jam 12.20 siang dengan harapan bisa sampai kampus lebih cepat atau tepat waktu! 40 menit ternyata tidak bisa rupanya! kemarin siang saja saya sampai di kampus jam 1.05 yang berarti 5 menit mundur dari jadwal. wah, saya sangat sedih sekaligus kesal karena tidak bisa tepat waktu. saya bukanlah orang yang bangga datang jam karet lalu dengan enaknya berkata 'aduh, sorry ya, gue telat. tadi gue kena macet sih di jalan trus supir gue lelet banget jalannya'. saya akan sangat menyesal sampai kepikiran di otak berusaha agar keesokan hari tidak telat. tapi, apa daya, selalu saja tak bisa sesuai dengan target. pernah berangkat jam 12.10 eh tau2nya...bukan macet karena banyak mobil, melainkan DEMO! iya benar sekali, 1 demonstrasi bisa membuat ruas Sudirman-Thamrin merayap bak semut yang mengantri barisan! apalagi kalau sampai 3 demonstrasi seperti minggu lalu, wuih, hebatnya saya menghabiskan waktu sekitar 70 menit demi jarak tempuh yang saya bisa pastikan kurang dari 10 kilometer! benar2 buang bensin. yang bikin saya sedikit ill-feel lagi adalah pengendara sepeda motor (khususnya) yang seakan-akan melihat kalau peraturan memang dibuat untuk dilanggar. lihat saja beberapa ruas jalan sekitar Tanah Abang. awalnya hanya untuk 1 arah tapi oleh pengendara motor dibuat jadi 2 arah sehingga kalau orang yang tidak tahu bakal dibuat pusing oleh mereka. mana terkadang ada saja Pak Ogah yang menagih uang di depan padahal jelas2 apa yang mereka perbuat sudah salah besar.


saya tidak tahu apa yang ada di benak mereka sampai-sampai dengan santainya melanggar peraturan. polisi2 maupun satuan lalu lintas saja tidak berani menegur! mau jadi apa bangsa ini kalau mentalnya tetap seperti 'mental sampah'???

Minggu, 24 Mei 2009

Bandung: kota keduaku dalam memori

Bandung...

Semua orang suka dengan kota Bandung.

Apakah yang membuat orang rela bepergian pulang hari demi kota Bandung?

Wisata kuliner-nya kah?

Udara-nya kah?

Panorama-nya kah?

Wisata belanja-nya kah?

Keramah-tamahan-nya kah?

Pelayanan-nya kah?

Atau yang lain?



Sepertinya semuanya ada di Bandung. tetapi, Bandung yang dulu dengan Bandung sekarang berbeda sekali. Bandung tempat saya menghabiskan masa kanak-kanak saya selama liburan sekolah 15-16 tahun lalu sangatlah berbeda dibanding Bandung masa kini. dulu, saya masih ingat dengan jelas Jalan Braga yang belum terlalu ramai sangatlah rindang dan nyaman untuk dijalani. terlebih disekitar Hotel Panghegar, belum ada keramaian yang berarti. yang ada hanyalah beberapa kendaraan bermotor yang lewat. plus pejalan kaki dan pesepeda yang lewat. Hotel Grand Preanger dan Savoy Homann menjadi tempat langganan saya menginap sebelum akhirnya bermunculan hotel2 sekelas lainnya (red.franchise luar maupun lokal) yang mampu membuat semua orang berduyun-duyun tinggal di Bandung. sebelum pembangunan gedung2 yang disulap menjadi pusat perbelanjaan (ingat Kings sebelum dibangun gedung parkir???) Bandung sangatlah menawan dari setiap sisi. bahkan, jika saya ingin ke Lembang atau daerah Setiabudhi untuk bersantap di Venezia Cafe (sekarang sudah tidak ada lagi) tak perlu repot2 memikirkan kemacetan karena dijamin dalam tempo 10-20 menit akan sampai. sekarang? wah jangankan 20 menit, bisa lolos dari kemacetan di sekitar Istana Plaza saja sudah bersyukur.


Sabtu kemarin saya berkesempatan kembali ke Bandung untuk urusan bisnis papa saya. sekalian membantu beliau mengurus beberapa pesanan yang hendak dikirim ke rekan bisnisnya.. alangkah kagetnya saya karena belum ditinggal 6 bulan saja (terakhir ke Bandung akhir November) sudah tambah kacau Bandung. belum lagi kendaraan umum seperti angkot dan bis yang dengan seenak jidat berhenti di tengah jalan dan menaikkan menurunkan penumpang. ah Bandung tak hibahnya Jakarta di hari biasa. yang saya perhatikan, Hotel Hilton sudah beroperasi padahal waktu itu saya lihat masih bangunan konstruksi saja. factory outlet semakin banyak menjamur dan yang pasti membuat orang tergiur untuk mengunjungi dan membeli. semakin macet, sudah pasti, terlebih di sekitar Cihampelas. saya yang tidak menyetir saja rasanya ingin teriak sekencang mungkin. tapi saya maklum, mungkin karena kemarin malam minggu jadi banyak pasangan muda mudi yang ke Ciwalk sekedar menonton di Ciwalk XXI. Jalan Braga sudah lumayan rapi meskipun tambah kacau kalau diliat dari dekat. yang pasti saya masih tetap salut dengan kepribadian orang Bandung yang masih terlihat sopan santunnya dibandingkan Jakarta (red.banyak juga yang berubah namun belum separah Jakarta). saya akhirnya menginap di Savoy Homann, salah satu hotel bersejarah di Bandung yang letaknya persis di seberang Gedung Merdeka yang fenomenal itu. sebetulnya saya harus menggunakan poin di kartu Starwood saya di Sheraton Bandung namun karena letaknya yang jauh di Dago yang sudah pasti alamat macet kemana-mana bagi saya, maka papa saya memutuskan lebih baik di Savoy supaya lebih dekat dengan tempat tujuan bisnis papa.



Bandung oh Bandung....tidak cukup rasanya seharian untuk bercerita tentang kota kembang ini...

Senin, 18 Mei 2009

Rangkuman Kilat

Cuma mau berbagi sedikit informasi saja:


Setiap hari saya melewati ruas jalan Harmoni-Thamrin-Sudirman. entah sudah berapa kali mobil saya mengeluarkan klaksonnya demi menegur sopir2 angkutan umum macam Metro Mini, Kopaja, Mikrolet bahkan Bajaj dan Motor! sungguh menyebalkan! disaat kita dituntut sabar eh, mereka justru menyalahkan kita. saya sih gak mau ambil pusing sekarang. lebih baik diam daripada berdebat dengan mereka. bukannya saya merendahkan pekerjaan mereka namun ada pepatah: dikasih hati, mintanya jantung. sepertinya itulah kira2 kalimat yang tepat.
Saya akan sangat berterima kasih kepada Bapak Gubernur Fauzi Bowo apabila beliau mau melihat keadaan realita Jakarta sehari-hari! jangan hanya menaiki mobil pribadi dengan pengawal saja, Pak! sekali-kali coba deh Bapak yang naik bus, angkot, pasti pemikiran bapak bakal lain.
Sudah pegal mulut saya mengomel-ngomel. lebih baik diam menunggu kapan Bapak Bowo merealisasikan janjinya itu! kalau sampai pemilihan mendatang masih seperti ini ya mau dikata apa, Jakarta memang sudah kacau!