Jakarta...andai engkau bukan kampung halamanku, sudah kutinggalkan sejak lama...
kenapa tiba2 saya bisa menulis kalimat diatas dengan gamblang? apa saya sudah gila? atau hanya sekedar cari sensasi? tentu saja tidak. saya menulis kalimat tersebut tentu dengan alasan yang mendukung.
Jakarta sudah semakin bermasalah. dari tahun ke tahun saya tidak melihat perubahan yang berarti dari Ibukota Indonesia berpenduduk lebih dari 8 juta jiwa ini (red.kalau mau dijumlahkan dengan pendatang2 ilegal dan pekerja2 BoDeTaBek sekitar 11-12 juta). setiap hari saya harus berurusan dengan yang namanya KEMACETAN! sungguh menyebalkan sekaligus menyesakkan! betapa tidak! peraturan yang dibuat oleh Pemerintah Ibukota seakan-akan tidak berlaku di hampir 70% wilayah Jakarta. terlebih lagi jika anda bertempat tinggal di wilayah Timur, Utara atau Barat, wah jangan berharap kendaraan anda akan bisa meluncur dengan santai untuk mencapai suatu destinasi. lah, saya setiap hari sudah berangkat sekitar jam 12.20 siang dengan harapan bisa sampai kampus lebih cepat atau tepat waktu! 40 menit ternyata tidak bisa rupanya! kemarin siang saja saya sampai di kampus jam 1.05 yang berarti 5 menit mundur dari jadwal. wah, saya sangat sedih sekaligus kesal karena tidak bisa tepat waktu. saya bukanlah orang yang bangga datang jam karet lalu dengan enaknya berkata 'aduh, sorry ya, gue telat. tadi gue kena macet sih di jalan trus supir gue lelet banget jalannya'. saya akan sangat menyesal sampai kepikiran di otak berusaha agar keesokan hari tidak telat. tapi, apa daya, selalu saja tak bisa sesuai dengan target. pernah berangkat jam 12.10 eh tau2nya...bukan macet karena banyak mobil, melainkan DEMO! iya benar sekali, 1 demonstrasi bisa membuat ruas Sudirman-Thamrin merayap bak semut yang mengantri barisan! apalagi kalau sampai 3 demonstrasi seperti minggu lalu, wuih, hebatnya saya menghabiskan waktu sekitar 70 menit demi jarak tempuh yang saya bisa pastikan kurang dari 10 kilometer! benar2 buang bensin. yang bikin saya sedikit ill-feel lagi adalah pengendara sepeda motor (khususnya) yang seakan-akan melihat kalau peraturan memang dibuat untuk dilanggar. lihat saja beberapa ruas jalan sekitar Tanah Abang. awalnya hanya untuk 1 arah tapi oleh pengendara motor dibuat jadi 2 arah sehingga kalau orang yang tidak tahu bakal dibuat pusing oleh mereka. mana terkadang ada saja Pak Ogah yang menagih uang di depan padahal jelas2 apa yang mereka perbuat sudah salah besar.
saya tidak tahu apa yang ada di benak mereka sampai-sampai dengan santainya melanggar peraturan. polisi2 maupun satuan lalu lintas saja tidak berani menegur! mau jadi apa bangsa ini kalau mentalnya tetap seperti 'mental sampah'???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar