Saya mulai dari M dahulu. M yang saya maksud disini adalah Manohara Odelia Pinot yang beberapa waktu lalu membuat heboh seisi Indonesia dan Malaysia (tentu) dengan kasusnya yang terbilang memprihatinkan sekaligus melebih-lebih kan. wah, ada gerangan apa saya bisa menyimpulkan kata 'melebih-lebih kan'? oh tidak, saya bukannya sedang mendongeng. saya hanya ingin menulis saja. memang, sebagai sesama WNI kita patut prihatin apabila ada WNI di negeri tetangga atau nun jauh disana mendapatkan masalah terlebih kalau kasusnya menyangkut kekerasan. tetapi, lama kelamaan kasus yang menimpa si M seakan-akan hanya ilusi belaka. betapa tidak? (maaf jika saya agak sewot dan sekali lagi maaf, saya bukan bermaksud menjelek-jelekkan M disini beserta Ibunda tercintanya) awal mula kasus ini mencuat di muka publik, oke, bisa membuat orang simpati dikarenakan sang primadona (alias M) memang terlihat biasa saja. namun, lama kelamaan, jujur saya agak enek melihat si M dan Ibunda-nya karena berita yang mereka berikan terkesan simpang siur dan keluar dari jalur. serta, banyak kejanggalan meliputi kasus ini. misalnya saja, masalah visum. lah, kok seperti ditunda-tunda?!? kalau memang ini KDRT, buat apa ditutup-tutupi??? lalu, masalah kejiwaan. wanita manapun (semua ras di dunia ini) yang pernah mengalami kekerasan entah masalah rumah tangga ataupun karena perlakuan orang lain pasti akan mengalami yang namanya: Trauma. Trauma tersebut bisa menjadi fobia tersendiri di dalam diri wanita itu. saya pun mengakui saya pernah mengalami kekerasan sewaktu masih berumur 6 tahun dan itu pun meninggalkan trauma yang mendalam di dalam diri saya. lah, bagaimana dengan si M? sungguh ironis ketika wartawan menyorot muka M dan Ibunda-nya, terlihat senyuman yang lebarnya setengah mati. lah, katanya mengalami KDRT?!!? kok, sempat2nya senyum??? seharusnya kalau memang mengalami kekerasan fisik, justru ekspresi yang harus terlihat adalah penyesalan sekaligus kesedihan. bukannya memamerkan senyuman demi sorotan kamera. saya tahu kalo M memang sangat terkenal di kalangan Sosialita Jakarta namun, oh, itu bukan perilaku yang pantas. dan perhatikan senyuman mereka, terlihat ekspresi yang agak ganjil. senyum kedengkian. lalu, sangatlah memalukan apabila seseorang yang memang terkena kekerasan melakukan Road Show segala ke semua stasiun televisi. katanya sedih dan takut tetapi kenyataan sebaliknya.
OPINI SY: kesalahan sepenuhnya dibebankan ke Ibunda M. mengapa? lah, kalau memang mereka terpelajar, buat apa menikahkan putrinya di usia yang relatif sangat muda (16,5 tahun) yang masih terbuai dalam lingkungan SMA?? rasa-rasanya semua sudah tahu kalau Ibu D menikahkan M dengan sang Prince bukan berdasarkan rasa cinta tetapi melainkan nafsu dengan harta semata. saya tidak akan neko-neko kali ini. toh, bagi yang terjun di kalangan Sosialita atau yang memantau dengan seksama kasus M dan Ibu D sejak 2 tahun lalu sudah tahu jawabannya. ini hanya opini saya. buat apa sekolah tinggi kalau begitu?! ini sama saja memaksakan kehendak sang anak yang notabene belum 17 tahun. (kecuali kalau hamil diluar nikah, lain hal). M belumlah dewasa, masih butuh beberapa tahun sebelum akhirnya dia akan dewasa dengan sendirinya dan mengerti kehidupan rumah tangga. dan untuk Ibu D, janganlah terbuai oleh harta. biar bagaimanapun, harta duniawi tak akan pernah bisa dibawa mati.
kasus tentang P bagaimana? tunggu kelanjutannya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar